"Kehidupan, mungkin adanya kehidupan karena kehidupan itu sendiri, dan definisi kehidupan itu masih belum di definisikan, mengapa dan kenapa " Hasan

Senin, Agustus 14, 2017

Diatas Penerimaan



“Hujan tidak pernah melakukan penolakan”
.................
                Hal itu yang kufikirakan saat pertama kali melakukan perjalanan ke sumber maroon dan kehujanan selama 2 jam perjalanan. Aku merasa iiri dengan hujan, hujan selalu menerima bahkan dalam penerimaannya dia memberi. Konsep penerimaan ada di seluruh alam semesta, misalnya saat ini, hujan, sumber air bahkan yang paling dekat dengan aku yaitu jasmani.
                Kita telaah lebih lanjut kata penerimaan ini, manusia yang dikenal sebagai makhluk dari entitas tertinggi, memiliki penerimaan bermacam-macam, dalam rohani biar orang itu sendiri yang tahu tetapu untuk jasmani, semua manusia memiliki penerimaan total terhadap keputusan dari entitas Tertinggi, karena kita semua tahu jasmani tidak memiliki kehendak bebas. Manusia diberi kehendak bebas, jika manusia tidak berusaha memahami kehendak bebas ini manusia berada dalam konsep budak, karena secara keseluruhan konsep budak ini ada dalam manusia kecuali satu hal, akal.
..............
                “He who cannot obey himself, will be commended”

..............
Nietsczhe pernah menyatakan dalam thus spoe zarathustra bahwa manusia untuk dimensi pertama akan menjadi unta, yaitu dengan kata lain budak, unta yang tidak akan melawan, menerima segala yang diberi bahkan ketika diberi beban di punuknya. Inilah manusia dalam dimensi pertama, manusia akan menjadi budak jika tidak memiliki kehendak untuk bebas. Tentu dalam arti bebas dalam diri sendiri.
Setelah kebebasan jasmani bisa tercapai, kebebasan budak bisa dicapai manuusia akan menjadi singa. Secara langsung memang singa tidak bisa menjadi budak layaknya unta, tetapi dalam sisi lain singa selalu diperbudak, diperbudak oleh instingnya sendiri atau dengan kata lain budak akal. Untuk manusia dimensi dua ini, banyak manusia yang tidak bisa mencapainya karena kebanyakan manusia bisa menerima sebagai unta, karena semuanya tercukupi.
Akal yang menurut nietsczhe tak terhingga tetapi pada akhirnya Nietszche memberontak akalnya lagi, akal terhingga sampai kata ‘puas’ tercapai, ketika singa sudah terpuaskan atau bahkan manusia sudah mencapai kebijaksanaan tertinggi, konsep dimensi selanjutnya yaitu digambarkan oleh Nietsczhe menjadi anak kecil, manusia dimensi ini tidak memiliki konsep apapun, manusia yang terbebas dari manfaat atau bukan, baik atau bukan, memiliki tujuan atau tidak, itulah anak kecil, dengan kepolosan senyum.
Cerminan terakhir dari dimensi terakhirnya adalah mitologi dionisius yang menolak ritmenya apollo, dionisius merupakan antitesis takdirnya apollo. Walaupun ini hanya mitologi tetapi disitulah leyak manusia sesungguhnya yang dinamakan kehendak bebas.
Bukan jasmani, bukan rohani ataupun akal, kehendak bebas merupakan kehendak bebas. Kehendak adalah suatu kemampuan. Manusia bukan tidak sejalan dengan entitas Tertinggi. Entitas Tertinggi dengan sadar memberi kehendak bebas dan akal bagi manusia, perkembangan akal harus memang tak tetrhingga agar bisa mencapai cita-cita entitas Tertinggi. Manusia memang tidak bisa sepenuhnya bisa menerima seperti hujan, sawah, sumber air bahkan jasmani. Jadi apakah memang takdir itu diperlukan oleh manusia? Tanyakan kepada diri sendiri.
...................
Manusia adalah rahasia Tuhan
.................
Hujan, sumber air bahkan apa yang ada di dalam seluruh alam semesta ini mencerminkan penerimaan mutlak makhluk kepada entitas tertinggi, tapi manusia adalah rahasia entitas tertinggi, begitulah yang dikatakan muhammad iqbal dalam bukunya. Manusia dan entitas tertinggi memberika warna bagi kehidupan bumi. Sampai sekarang akupun masih berfikir tentang keindahan yang bernama manusia . aku tidak sekalipun menoloka manusia ataupun bahkan menerimanya tetapi hal ini memang patut untuk difikitrkan. Keindahan akal manusia mana lagi yang lebih inidah dari manusia itu sendiri.
................
Lihatlah manusia
Tuhanpun rahasia manusia
.................
Sumber maron 3 des 2016

Selasa, Mei 23, 2017

Bangsa yang Melupa

Kasih
bukankah sebuah taruhan itu
mempertaruhkan segalanya
kita bertaruh, mendapat segalanya atau tidak apapun?
--------------------------------------------------------------------------------------------------


terjebak dalam tulisan Emha Ainun Nadjib yang berjudul "keder terhadap harta", saya merasa berfikir berkali kali untuk meng'iya'kan apa yang ditulis oleh Cak Nun

sekolah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun hanya untuk keder terhadap harta, kagum terhadap teknologi, begitu kata tulisan itu. kita lihat lebih lanjut budaya di Nusantara khususnya, orang-orang di Nusantara kebanyakan memiliki motivasi ilmu hanya untuk mempermudah hidup, padahal kata orang jawa
"ilmu iku lakune kanthi laku"
pergeseran nilai keilmuan ini membuat masyarakat Nusantara semakin menjadi masyarakat yang "pacaran" masih belum menikah, karena masyarakat kita disini masih banyak yang berandai-andai untuk tidak menyadari betapa urgensinya/pentingnya sebuah ilmu yang seharusnya digunakan dengan lebih baik, bukan untuk sekedar pencari harta, maupun pekerjaan

coba dilihat dari sejarahnya, Nusantara merupakan pusat keilmuan pada masa ke masa, dari awal adanya agama sampai sekarang. kita ambil contoh kerajaan kalingga, kerajaan ini memiliki kitab undang-undang sebelum seluruh dunia memilikinya, nama kitab undang-undang tersebut adalah "Kalingga Dharma Sastra" yang telah mengatur kehidupan pada awal abad ke 6. Contoh lagi, sejarah Wayang, wayang milik siapa? milik bangsa Nusantara sendiri tentunya, dahulu di Nusantara memiliki wilayah yang luas, sehingga yang namanya India adalah provinsi dari Nusantara yang ditugaskan untuk membukukan kehebatan-kehebatan tokoh perwayangan tersebut, mereka hanya membukukan bukan memiliki. tetapi banyaknya sejarah yang telah terhapus ataupun dihapus oleh pemegang kekuasaan tertinggi menjadikan bangsa ini lupa akan 'garuda'nya.

Bangsa Nusantara seharusnya bangga akan keilmuannya karena disinilah pusat ilmu-ilmu berjalan. tetapi banyak orang lupa atau sengaja melupakan Nilai yang tersirat daripada yang tersurat khususnya terbutakan dengan yang namanya materi.

tetapi tak apalah, bangsa ini memang harusnya masih belajar. seorang dengan keilmuan yang tinggi harus merendah dan dengan kebesaran hatinya harus mengatakan bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. tetapi jika bangsa Nusantara telah berani mengambil keputusan untuk "memangku" dunia, maka beberapa hal memang harus dibenahi ataupun dihancurkan.
keputusan untuk mendapatkan segalanya atau tidak apapun harus segera dijalani
sekali lagi materi itu membutakan seperti kapas kapas yang beterbangan, maka ambillah sebilah pedang dan tebas kapas itu satu persatu......

stereo
23 mei 2016


Designed by
Blog Need Money | Distributed Deluxe Templates